Sejarah Perkembangan, serta Pemikiran David Bornstein dan Solutions Journalism Network
![]() |
| Foto:Ilustrasi teori jurnalistik Landasan solusi. |
Dalam teori nilai berita ( nilai berita ), konflik, tragedi, bencana, dan kontroversi memang memiliki nilai berita yang tinggi. Johan Galtung dan Mari Holmboe Ruge (1965) menjelaskan bahwa konflik merupakan salah satu elemen yang membuat suatu peristiwa layak diberitakan. Prinsip tersebut masih menjadi salah satu landasan dalam praktik jurnalistik modern. Namun, ketika media terlalu fokus pada konflik menghadirkan tanpa konteks maupun berbagai upaya penyelesaiannya, pemberitaan berpotensi menghasilkan gambaran realitas yang tidak utuh.
Solusi jurnalisme di dalamnya menawarkan perspektif yang berbeda. Pendekatan ini tidak mengubah prinsip dasar jurnalistik, tetapi memperluas pemberitaan liputan agar tidak berhenti pada pertanyaan apa yang salah , melainkan juga mengajukan pertanyaan apa yang sedang dilakukan untuk perbaikan .
Secara kontekstual, jurnalisme solusi merupakan praktik pelaporan yang sistematis terhadap berbagai respon terhadap permasalahan sosial. Fokus utamanya bukan sekedar pada keberadaan sebuah solusi, melainkan pada bagaimana solusi tersebut bekerja, siapa yang menginisiasinya, bagaimana proses implementasinya, bukti empiris mengenai dampaknya, serta berbagai batasan yang masih menghadang. Dengan demikian, solusi tidak diposisikan sebagai klaim keberhasilan, melainkan sebagai objek liputan yang tetap harus diuji melalui metode jurnalistik yang ketat.
Pendekatan ini memiliki empat karakteristik utama. Pertama, pemberitaan harus mengangkat respon nyata terhadap suatu permasalahan. Kedua, media harus menjelaskan mekanisme bagaimana respon tersebut bekerja. Ketiga, seluruh klaim keberhasilan harus didukung oleh bukti yang dapat dibuktikan melalui data, penelitian, maupun hasil evaluasi independen. Keempat, pemberitaan wajib menjelaskan keterbatasan, tantangan, serta kondisi yang membuat suatu solusi belum tentu dapat diterapkan di tempat lain.
Keempat prinsip tersebut membedakan jurnalisme solusi dari artikel motivasi, liputan human interest, maupun publikasi hubungan masyarakat (public Relations ) . Dalam jurnalisme solusi, wartawan tetap menjalankan fungsi skeptisnya. Setiap keberhasilan harus diuji sebagaimana setiap dugaan penyimpangan juga harus diuji. Tidak ada ruang bagi glorifikasi, promosi, ataupun pencitraan.
Secara historis, solusi embrio jurnalisme sebenarnya telah berkembang sejak dekade 1990-an melalui berbagai diskusi mengenai jurnalisme publik atau jurnalisme sipil di Amerika Serikat. Pada masa itu, sejumlah sejarawan dan praktisi media mulai mendokumentasikan.
apakah fungsi pers hanya sebatas menjadi pengamat yang melaporkan konflik, ataukah media juga memiliki tanggung jawab untuk membantu memahami masyarakat berbagai alternatif penyelesaian terhadap permasalahan publik.
Pemikiran tersebut berkembang menjadi gagasan bahwa jurnalisme tidak hanya berfungsi sebagai pengawas terhadap kekuasaan, tetapi juga sebagai fasilitator ruang publik yang mempertemukan fakta, pengetahuan, dan berbagai pengalaman dalam memecahkan permasalahan bersama. Dari berkembangnya berbagai pendekatan yang kemudian melahirkan konsep jurnalisme konstruktif di Eropa dan jurnalisme solusi di Amerika Serikat.
Meskipun memiliki irisan yang sama, kedua pendekatan tersebut memiliki penekanan yang berbeda. Jurnalisme konstruktif lebih menitikberatkan pada penyajian informasi yang mampu membangun pemahaman publik secara konstruktif tanpa kehilangan sikap kritis. Sementara itu, jurnalisme solusi menempatkan proses investigasi terhadap berbagai respon atas suatu persoalan sebagai inti pemberitaan. Fokusnya bukan optimisme, melainkan verifikasi terhadap efektivitas suatu solusi.
Perkembangan paling signifikan terjadi pada tahun 2013 ketika David Bornstein bersama Tina Rosenberg dan Courtney Martin membangun Solutions Journalism Network (SJN), sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan mengembangkan praktik jurnalisme solusi di berbagai negara. Organisasi ini lahir dari pepatah bahwa banyak media terlalu sering berhenti pada pelaporan mengenai kegagalan, sementara berbagai inovasi sosial yang terbukti efektif justru jarang mendapat perhatian.
Menurut David Bornstein, fungsi utama jurnalisme bukan sekadar memberi tahu masyarakat bahwa suatu persoalan ada, melainkan membantu memahami masyarakat secara keseluruhan. Ia memperkenalkan konsep keseluruhan cerita , gagasan yaitu bahwa sebuah berita belum lengkap apabila hanya menjelaskan masalah tanpa mengulas berbagai tanggapan yang telah dicoba untuk mengatasinya.
Dalam pandangan Bornstein, berita yang hanya berisi kegagalan sebenarnya juga menghadirkan distorsi fakta. Dunia memang penuh dengan konflik dan krisis, namun pada saat yang sama selalu ada individu, komunitas, organisasi masyarakat sipil, lembaga pendidikan, dunia usaha, maupun pemerintah yang berupaya mencari jalan keluar. Apabila media hanya memberitakan sisi kegagalannya, publik kehilangan kesempatan untuk belajar dari praktik-praktik yang berhasil maupun yang gagal.
Konsep keseluruhan cerita kemudian menjadi fondasi filosofis jurnalisme solusi. Filosofi ini menegaskan bahwa pemberitaan harus memberikan gambaran secara menyeluruh, bukan gambaran yang dipilih hanya karena memiliki nilai sensasional. Dengan kata lain, keseimbangan dalam jurnalisme tidak hanya berarti menghadirkan dua narasumber yang berbeda pendapat, namun juga menghadirkan dimensi lain berupa berbagai respons terhadap persoalan yang sedang diberitakan.
Solutions Journalism Network kemudian menyusun pedoman yang hingga kini menjadi referensi bagi banyak ruang redaksi di berbagai negara. Pedoman tersebut menyatakan bahwa sebuah liputan baru dapat diusulkan sebagai jurnalisme solusi apabila memenuhi beberapa unsur pokok: berangkat dari masalah yang nyata, melaporkan tanggapan yang konkret, menyajikan bukti mengenai efektivitas tanggapan tersebut, menjelaskan.
keterbatasannya, serta memberikan wawasan yang dapat dipelajari oleh masyarakat maupun pembuat kebijakan.
Prinsip ini sekaligus menjadi pembeda antara jurnalisme solusi dengan berita positif ( good news ). Tidak semua kabar baik merupakan jurnalisme solusi. Sebuah berita tentang keberhasilan suatu program, misalnya, belum dapat disebut sebagai solusi jurnalisme apabila tidak menjelaskan bagaimana program tersebut bekerja, indikator keberhasilannya, bukti empiris yang mendukungnya, serta berbagai tantangan yang masih menghadang.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, pendekatan ini juga sejalan dengan fungsi pers sebagai institusi sosial. Harold D. Lasswell menjelaskan bahwa media memiliki fungsi pengawasan ( surveillance ), korelasi ( korelasi ), dan transmisi nilai sosial ( transmisi warisan sosial). ). Jurnalisme solusi memperkuat fungsi korelasi tersebut dengan membantu masyarakat memahami hubungan antara persoalan, respons, dan kemungkinan perbaikannya berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan serupa juga diungkapkan dalam pemikiran Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism . Mereka menegaskan bahwa loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga negara, sedangkan disiplin pada intinya adalah verifikasi. Oleh karena itu, setiap informasi mengenai solusi harus diperlakukan dengan standar verifikasi yang sama ketatnya seperti informasi mengenai dugaan pelanggaran hukum atau perlindungan kekuasaan. Solusi bukanlah klaim yang diterima begitu saja, melainkan hipotesis yang harus diuji melalui proses jurnalistik.
Dengan demikian, landasan teoritis jurnalisme solusi menunjukkan bahwa pendekatan ini bukanlah penyimpangan dari prinsip-prinsip jurnalistik klasik. Sebaliknya, ia merupakan pengembangan dari nilai-nilai dasar jurnalisme yang menempatkan akurasi, independensi, verifikasi, kepentingan publik, dan pencarian kebenaran sebagai fondasi utama. Yang berubah bukanlah fungsi pers, melainkan cara media menghadirkan realitas secara lebih utuh sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui apa yang sedang salah, tetapi juga memahami berbagai ikhtiar yang sedang dilakukan untuk perbaikan.
M. Junaidi

Komentar
Posting Komentar